Tanggal Merah Yang Menjadi Kambing Hitam

Salam Kuli Bangunan !!!

Alangkah bahagianya kalau gaji kita di bayarkan sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati. Ya tentu saja di sepakati oleh kita sebagai kuli dan boss sebagai atasan yang membayar kita. Atau di sepakati oleh kita dan PT atau pabrik tempat kita bekerja. Dan lain-lain tentu saja tergantung di mana kita bekerja.

Pernah gak kita mengalami gajian mundur ? Gajian mundur dalam konteks dimana biasanya sebelum hari H gaji kita dibayarkan, terdapat tanggal merah. Misalnya saja biasanya kita menerima gaji tanggal 5 tapi karena tanggal 3 atau tanggal 4 adalah tanggal merah, akhirnya ekspektasi kita tentang shoping dan lain-lain buyar karena gaji kita dibayar beberapa hari setelah tanggal 5. Bisa satu atau dua hari setelah tanggal itu bahkan lebih. Sakit bukan ? Apalagi bagi sebagian orang dengan kebutuhan bulanan tertentu. Misalnya bayar cicilan,bayar listrik,bayar air dan lain-lain.

Pun bagi saya dan sebagian teman-teman kuli bangunan yang lainnya. Rasanya tuh melebihi saat kita melihat mantan yang lagi pacaran di depan kita kalau sedang mengalami gajian mundur. Apalagi bagi kami (saya khususnya) kuli bangunan yang biasanya setiap 2 minggu sekali di hari sabtu kami menerima gaji. Dengan segenap rasa yang gegap gempita menyambut hari dimana rasa lelah yang kami rasakan berharap bisa berubah menjadi rasa bahagia. Tapi tiba-tiba berubah menjadi rasa kecewa yang begitu dalam melelebihi rasa kecewa saat datang ke pernikahan mantan.

Disinilah muncul pertanyaan klasik, “kenapa rakyat kecil yang selalu jadi korban ?” Kalau seluruh badan yang kotor itu namanya resiko pekerjaan. Apalagi menjadi kuli bangunan, bukan hanya badan yang kotor kadang darah menetes itu sudah biasa. Tapi ini gaji yang mundur ! Resiko macam apa ini ? Gaji itu hak pekerja. Tidak perlu sekolah sampai keluar negeri untuk mengartikan gaji itu apa. Pada saat bekerja di lapangan kami selalu di tuntut yang cepatlah, yang rapilah, yang bersihlah. Tapi pada saat kami mau menuntut hak kami, alasanya cuma karena tanggal merah.

Dan alasan tanggal merah ini menurut saya tidak sportif. Tidak sportif karena menurut saya kami jadi korban apa itu yang namanya manajemen dengan segudang prosedur perusahaan. Dan karena dalam hal ini kami bekerja sudah full sesuai kewajiban. Kenapa cuma tanggal merah saja di jadikan alasan. Seharusnya kan sudah di antisipasi. Karena kami tahu orang kantor itu rata-rata berpendidikan semua. Masa iya tidak bisa mengatasi masalah tanggal merah. Kan tidak aneh lagi, tapi gokil.

Kami kuli bangunan memang tidak semuanya orang susah. Ada dari kami orang yang terbilang mampu (kaya) di lingkungan dia tinggal. Jadi bukan berarti kuli bangunan itu tempat bekerjanya sekumpulan orang susah. Tapi itu bagi orang yang mampu. Tapi bagi sebagian besar dari kami yang hanya mengandalkan pemasukan setiap dua minggu dari proyek bangunan akan sangat terasa sekali dampaknya. Semua urusan roda perekonomian kami di rumah yang kami tinggal merantau akan kacau.

Memang itu urusan kami. Tapi kan tetap ada hubungannya dengan gajian yang stabil setiap dua minggu sekali itu.

Ya intinya kami sebagai pekerja kuli bangunan berharap jangan ada lagi alasan tanggal merahlah, uang dari pusat belum cairlahlah. Itu urusan anda-anda sekalian yang di atas. Dan itu tugas anda sebagai atasan untuk memberi rasa nyaman bagi kami para pekerja. Karena kami merasa sudah 2 minggu menunaikan kewajiban kami sebagai pekerja. Jangan hanya jargon saja yang di gembar-gemborkan setiap kali meeting, tapi buktikan dengan tindakan nyata. Menghargai setiap tetesan keringat kami di panas terik mentari setiap harinya dengan membayar gaji kami tepat pada waktunya.

Salam Kuli Bangunan.

Advertisements
Posted in opini, Proyek Bangunan, sosial | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Apapun Karyamu, Tampilkan !!!

Terkadang saya bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang harus saya lakukan agar bisa memenuhi hasrat dalam hati misalnya hobi. Dan kalimat yang menginspirasi  saya adalah ‘hobi yang di bayar”. 

Kalimat ini betul-betul membuat saya resah. Karena saya punya banyak hobi, tapi tak satupun yang berbayar. Malah kadang saya harus keluar uang untuk menyalurkan hobi saya itu. Misalnya NgeBand atau main futsal. Ya saya sadar sih skill saya memang biasa-biasa saja. 

Tapi di umur saya yang sudah kepala tiga ini, saya harus berpikir realistis. Hobi gak bisa berbayar tidak apa-apa toh saya masih bisa menghidupi anak istri meski cuma menjadi seorang kuli bangunan. Dan saya bisa berkarya melalui salah satu hobi saya, yaitu bermain gitar.

Melalui gitar saya bisa mencipta beberapa lagu. Walaupun tidak memakai standarisasi pencipta lagu professional pada umumnya. Karena memang saya buta dan tidak paham tentang apa dan bagaimana kategori baku seorang pencipta lagu. Saya hanya mengikuti kata hati saat punya feeling dan suasana hati yang bagus. Miasalnya ada inspirasi dan kebetulan memang ada gitar, lagu itu bisa jadi begitu saja. Kadang dalam hitungan jam atau hitungan hari. Lagu yang masih ‘mentah’ tentu saja. Karena cuma bermodalkan gitar akustik.

Lagu Pertama Yang Saya Buat : Cinta Pertama

Lagu Cinta Pertama ini saya ciptakan sekitar tahun 2002 saat saya masih duduk di bangku SMA kelas 2 dan ini lagu saya yang pertama. Setelah ada internet dan Youtube, sayapun masih ragu untuk menampilkannya. Tapi daripada saya pendam sendiri akhirnya saya beranikan diri untuk menguploadnya di Youtube.

Lagu saya memang masih standar sih. Lagu dengan tema Cinta. Liriknyapun terbilang biasa. Tapi seiring berjalannya waktu, karena profesi saya yang sebagai pekerja kuli bangunan kenapa kok saya tidak bikin lagu tentang kuli bangunan saja. Dan akhirnya terciptalah lagu tentang kuli bangunan itu. Lagu ini sebenarnya belum selesai karena pas saya bikin tiba-tiba ada urusan mendadak yang lebih penting. Lagu tentang kuli bangunan saya beri judul Ndasku Mumet Ndasmu Piye Dan sudah saya upload di Youtube. 


Dan alhamdulillah sampai tulisan ini saya buat, lagu Ndasku Mumet Ndasmu Piye sudah mendapat 15ribu viewr. Senang dan bangga rasanya karya saya bisa di apresiasi orang. Walaupun ada juga yang nyinyir. Tapi itu sudah resiko karena kita sudah tampil di publik walaupun cuma lewat media internet. 

Dari situlah saya juga berfikir daripada bikin status galau di facebook dan gak bermanfaat mendingan ‘berkarya’. Karya itu bisa apa saja. Seperti menulis, bikin kue atau apalah yang penting positif tentunya. Karena dalam hidup saya yang serba pas-pasan ini, mungkin cuma tulisan inilah warisan yang saya punya. Karena saya akan lebih malu lagi jika di usia saya yang sudah kepala tiga ini malah mewariskan story yang ‘bodoh’ di media sosial. 

Sekain dulu dari saya. Agak absurd sih. Selamat apa saja dan terima kasih telah mampir di blog saya. Salam kuli bangunan

Posted in opini | Leave a comment

Puisi Kuli Bangunan

Puisi Kuli Bangunan. Mungkin kalau saya jadi guru,saya juga akan puisi tentang guru. Bukan itu sih intinya. Kalau seperti itu kesannya kayak gimanaaa gitu. Ya bikin  karya itu ngalir aja. Puisi inipun spontan tercipta, bukan karena kuli bangunannya. Jadi waktu itu saya ada di sebuah proyek di Jakarta. Dengan ribuan jumlah pekerja kalau tidak salah saya dengar dari Pimpro pada waktu Tool Box Meeting.

Nah sekitar jam pulang lembur sekitar jam 10 malam, saya sedang menikmati makan malam wajib yaitu mi instan. Karena biasanya warung proyek itu kalau malam hari jarang menyajikan menu makan seperti siang hari. Ada juga paling nasi sisa tadi pagi, kalaupun ada sayur juga sisa tadi pagi. Jadi rasanyapun sudah pasti beda.

Kebetulan ada pekerja yang satu meja sama saya, dia kerokan memakai kaleng larutan penyegar cap kak* tig*. Naluri saya mengatakan ini aneh. Kenapa aneh, karena di barak pekerja itu adalah ratusan orang walaupun kita tidak mengenal mereka satu persatu. Tapi setidaknya dalam 1 mandor itu ada puluhan pekerja yang tergabung dalam satu tim kerja. Kan aneh rasanya kalau kerokan saja harus di lakukan sendiri. Ya tapi itu gak pentinglah, karena ini Jakarta. Tingkat individualismenya itu tinggi walau di ruang lingkup kuli bangunan sekalipun.

Sambil menyantap mi instan, saya beranikan bertanya pada orang yang sedang kerokan memakai kaleng larutan tersebut. Ternyata dia mengaku berasal dari kota Makassar. Dan dia juga agak sedikit kecewa dengan rekan satu mandor dengannya. Entah karena apa saya juga malas bertanya karena waktu itu saya juga lagi fokus menikmati mi instan.

Oke langsung saja, ini videonya.

Posted in Kehidupan, opini, Proyek Bangunan, sosial | Leave a comment

Saya Sombong ??? Lha Daripada Kamu…

Beberapa bulan ini saya muak lihat beranda Fb saya. Ya…emang bukan urusan anda sih. Tapi gini, saya mau sedikit meluruskan tentang beberapa orang yang bilang saya sombong lewat inbox.
Akhir-akhir ini saya sering meng-unfriend atau me-remove alias membatalkan dan menghapus pertemanan dengan beberapa teman di Fb. Karena postingan mereka tidak bermutu menurut versi saya. Dan kalaupun ada postingan yang tidak bermutu dalam tanda kutip alay dan saya tidak ‘mengeksekusinya’ itu karena saya tahu di dunia nyata kalian bermutu hehehe… Bahkan saya sampai membuat cover Fb saya seperti ini 

Dan anehnya orang yang saya ‘eksekusi’ itu meminta pertemanan lagi sama saya. Bukan berarti saya sombong lho ya. Kita semua punya prinsip dan selera dalam hal apapun. Apalagi dalam pola pikir.

Coba bayangkan, anda setiap kali buka Fb anda selalu melihat beberapa orang dengan karakter yang hampir  sama


1. Sering posting alias sering update status. 

Dari pagi sampai malam semuanya di buat status. Malas mandilah,mati lampulah,laperlah,nginjek tailah… Hellowww… kamu itu bukan artis kelesss. Jadi yang kamu posting itu kita juga udah tahu dan  gak usah di buat status. Kan kita sama-sama orang susah hehehe… Lagian kalau laper ya makanlah ! Bodoh kok telat. Kasihan.


2. Suka curhat.

 Semua orang juga tahu kalau curhat itu di mamah Dedeh. Ini malah curhat di Fb. Apalagi curhat tentang masalah dengan teman atau pasangan. Itu namanya bukan curhat tapi ngumbar aib goblokkk!!!


3. Pose foto tapi di paksakan seolah-olah mirip artis siapaaa gitu.

 Sumpah…!!! Jijik banget lihat foto orang yang kek gini. Mata di sayu-sayuin ala Ariel Noahlah. Senyum di bikin ala senyum Pepsodentlah. Udah gitu masih dikombinasikan dengan gaya tangan menyilang di dada sambil gaya dua jari. Ini apaaaa ???? Kekinian? Hits ? Kalau cakep mah cakep aja gak usah di buat-buat. 


4. Tukang berdoa di Fb. 

Tuh yang punya Fb aja bilang kek gitu. Berdoa itu intern antara individu sama sang pencipta. Kalau ajakan beribadah bolehlah. Tapi berdoa di Fb itu aneh menurut saya. Tapi ya itulah manusia. Sering menelan mentah sesuatu tanpa memfilternya terlebih dulu. Tapi kembali ke masing-masing personal. Itu mutlak hak asasi manusia mau memilih jadi alay atau manusia yang tidak alay.

Dan masih banyak karakter yang bikin saya muak di beranda Fb. Saya curiga orang dengan karakter seperti ini, di Hpnya banyak sekali terpasang aplikasi chating tapi kontaknya ya orang itu-itu saja. Misalnya ada orang dengan aplikasi Mesenger,BBM,WA,Line,IMO,KakaoTalk,Skype,Wechat dll, tapi kontaknya cuma beberapa orang dan orangnya itu lagi-itu lagi. Biasanya sih terjadi pada orang yang lagi kasmaran. Itu-tuh yang lagi pacaran trus pakai panggilan Ayah-Bunda. 

Maaf kalau ada yang merasa tersindir. Namanya juga dunia maya, yang bikin tulisan satu orang yang merasa tersindir banyak orang. Dan kalaupun anda merasa tersindir dengan tulisan saya ini, berarti anda termasuk orang yang belum cerdas. Karena apa? Karena ini Indonesia berowww, negara demokrasi. Lagian kan saya gak nyebut nama situ. Kalaupun merasa tersindir ya mungkin di balik sifat alaymu tersimpan sebentuk hatimu yang mudah menjadi pembenci.

Oke saya nyerah. Lebih baik saya yang mundur dan memutuskan pertemanan di dunia maya. Saya tidak sanggup melihat apa yang tidak menjadi keinginan saya.

Jujur saya dulu pernah jadi alay. Tapi dulu dan pada waktu itu belum ada istilah alay apalagi Fb. Dan sumpah, sangat-sangat memalukan kalau mengingatnya. Ya hampir mirip kasusnya, cuma dulu medianya berbeda. Kalau sekarangkan medianya Fb,IG dll kalau dulu medianya ya rahasia hehehe…

Okelah sadar gak sadar semua adalah pilihan. Semakin banyak umur seseorang seharusnya harus lebih dewasa lagi dalam pola pikir dan bertingkah laku. Kalaupun tidak bisa jadi orang baik tapi setidaknya janganlah menyakiti hati orang lain. Karena Tidak ada kebenaran yang absolute, benar bagi kita belum tentu benar untuk orang lain. Kekinian menurut anda, itu Alay bagi saya.



Posted in opini | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Dewasa Sebelum Saatnya

Hidup saya pusing bukan karena masalah hidup saya sendiri, tapi pusing karena melihat orang lain yang bermasalah dengan pola pikirnya”. Kalimat ini seringkali saya lontarkan entah pada saat saya kesal pada pola pikir seseorang yang absurd tapi tidak ada unsur menghiburnya sama sekali. Bahkan saya berdialog dengan hati kecil saya. Kenapa saya yang notabene orang susah, masih saja menemui orang-orang yang aneh dan gak jelas ini. Bukan masalah di tagih hutang oleh rentenir atau masalah sama kekasihnya. Masalah pola pikir orang di sekitar saya ini kadang-kadang bikin saya emosi. Tapi untungnya saya tetap bisa realistis dalam berpikir. Tetap berpikir positif agar semua tetap dalam keadaan baik-baik saja.

Continue reading

Posted in Kehidupan, opini, sosial | 2 Comments

Hidup Itu Pilihan

Pilih jadi munafik yang selalu di elu-elukan orang tentang semua kebaikan dan sebagainya-dan sebagainya. Yang sebenarnya itu hanyalah pencitraan dan penghianatan hati nurani. Atau memilih menjadi diri sendiri walau di pandang sebelah mata sebagai orang liar tapi tak pernah usil pada hidup orang lain kecuali ada yang usil duluan 

Continue reading

Posted in opini | Leave a comment

Pengalaman Jadi Youtuber

Youtuber. Entah pekerjaan atau sebuah profesi,yang lebih tahu adalah mereka yang sudah lama di bidangnya. Entah sudah sukses atau masih menunggu gajian pertama dari youtube. Bahkan ada lho teman saya yang jadi youtuber tapi tidak jadi monetizer. Ketika saya tanya, jawabannya hanyalah sebuah hobi dan dedikasi saja.

Continue reading

Posted in opini | Leave a comment