Skenario Yang Maha Kuasa

“Perlahan kuhembuskan asap rokok yang mulai panas memenuhi mulutku. Rasanya sedikit bisa mengurangi beban di hidupku, walau tak bisa menyelesaikan beban itu. Apa sebenarnya yang kucari dalam hidup ini, jawabannya cukup standard, tegas tanpa pencitraan : Harta !”

Gambaran itulah yang ada di imajinasi otak saya saat melihat seorang kawan dengan gestur yang gelisah. Saat matanya tak berkedip, saya merasa dia sedang menahan sebuah gambaran ide untuk memecahkan sebuah masalah, dan akhirnya gambaran ide itu terputus begitu saja saat matanya mulai berkedip.

Perlahan ku dekati, dan aku mulai dengan basa-basi pertanyaan formal. Jawabannya pun datar mencoba menutupi masalah yang sedang dia hadapi. Kucoba terus memancing obrolan agar dia mau bicara tentang apa yang sedang dia rasakan pada hatinya.

Dan akhirnya aku pun berhasil mengeluarkan semua isi otaknya. Yeahhhh…ternyata benar tebakanku, masalah ekonomi.

Akupun berusaha sebisaku berada di posisi dia walau hidupku sendiri juga penuh dengan masalah. Kata perkata aku mulai dengan begitu saja. Beberapa kata-kata yang sering kulihat di media sosial berusaha aku rangkai untuk sekedar mengalihkan perhatianya dari masalah hidup yang sedang dia alami. 

Kami hampir semalaman membahas sebuah realita dengan omong kosong. Ya… memang itu inti fakta dari obrolan kami. Saya dan dia sependapat bahwa mungkin kami lupa kepada Sang Pencipta. Dan selama beberapa tahun terakhir ini kami tidak pernah bersyukur kepada sang pencipta atas semua nikmatnya. Khususnya kami tidak pernah lagi menunaikan kewajiban Sholat fardhlu.

Sebuah cerita yang berbeda dengan ending yang sama pernah kami alami. Kami berdua sama-sama pernah merasakan masa sulit. Tanpa berusaha meminta bantuan dari seorangpun. Bukan karna kami tidak punya teman. Kami lebih berpikir kepada ini hidup kami. Susah senang akan kami hadapi sendiri.  Dan kami sempat berkesimpulan kami tidak akan mati karna cuma tidak makan atau merokok untuk beberapa hari. Kalaupun kami harus mati, pasti orang gila duluan yang mati. 

Kami mengalami sebuah peristiwa yang kami anggap sudah biasa karena kami hidup di jaman modern. Tapi dalam hati kami, kami tetap kekeh itu adalah skenario dari Yang Maha Kuasa. 

Kami pernah menahan lapar,haus dan rasa ingin merokok hanya dengan mengandalkan ketidakpastian. Misalnya dikasih makan teman sewaktu berkunjung kerumahnya, atau mengandalkan puntung rokok yang terbuang dijalan jika kami ingin merokok.

Tapi apa skenario Yang Maha Kuasa ? 

Kami bicara hanya dalam hati, berimajinasi dan membayangkan hal kecil yang ingin kami rasakan hanya untuk bertahan dan menikmati indahnya hidup ini. Dan jawabannya sangat memuaskan. Di saat kami sedang menjalani masa sulit dan di iringi dengan Sholat fardhlu, hal kecil yang ingin kami rasakan itu terwujud begitu saja. Pagi kami berjalan sembari memunguti puntung rokok untuk jatah merokok di siang hari. Dan Allah tahu kalau sore sampai malam hari kami akan sangat gelisah sekali. Maka di sore hari di jalan yang sama kami menemukan puntung rokok yang banyak sekali. Ukuranya pun lumayan masih panjang. Cukup untuk menemani kegelisahan kami sampai larut malam. Dan hal itu berulang-ulang terjadi walau tidak setiap hari.

Memang cerita yang biasa sekali, atau bahasa yang mungkin tepat adalah suatu kebetulan saja. Tapi bagi kami itu adalah skenario Yang Maha Kuasa, karena memang kami menjalani hidup dengan hati. Bukan hati ampela lho ya… Ya udah sekalian sama tempe orek hehehe..

Bukan hanya soal puntung rokok, pada saat kami susah dan di barengi menjalankan Sholat fardhlu, kami merasa rejeki kecil yang kami anggap sangat besar tiba-tiba datang begitu saja. Entah itu di kasih nasi kotak kondangan atau di kasih makanan kawan di tempat kerja. Yang hal itu, sebenarnya jarang sekali terjadi sebelumnya. 

Jawaban anda pasti sama : suatu kebetulan

Disinilah  kami belajar menghargai orang lain yang berbeda pendapat, tapi ilmunya di dapat dari orang yang tidak menghargai kita. Mereka menganggap ini hal yang biasa dan  suatu kebetulan dan kami tetap menganggap ini adalah skenario dari Yang Maha Kuasa. 

Semua orang dengan masalah dan dengan sudut pandang masing-masing. Dan kami memilih diam hanya untuk menyudahi pro-kontra peristiwa yang kami alami. 

Kemudian obrolan omong kosong malam itu kami sudahi dengan sepakat untuk bekerja sama mengulang skenario dari Yang Maha kuasa. Karna motivator yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Bukan seorang tokoh atau buku best seller. 

Advertisements

About tulusmaholtra

apapun karyamu... tampilkan !!!!
This entry was posted in Kehidupan and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Skenario Yang Maha Kuasa

  1. Ferboes says:

    gak ono fotone lek… koyo moco sms xixixixiiii

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s