Jodohku Terhalang “NGALOR NGETAN”

Namaku Eng. Suku Jawa. Muslim. Umurku sekitar 30 tahun (lebih sih kayaknya). Pekerjaan Serabutan. Aku seorang pria pekerja keras yang di jaman serba canggih ini, aku tidak malu melakukan pekerjaan apapun di kampungku. Dan satu hal lagi, “aku sangat menyanyangi ibuku lebih dari hidupku sendiri”.

<!–more–>

Di umur yang sekian tersebut di atas, dan untuk ukuran umur orang di kampungku, seharusnya aku sudah mempunyai dua anak. Minimal satu lah… Tapi apa daya, di umurku yang yang telah kujelaskan di atas tersebut, aku masih hidup sendiri. Untuk menghibur diri atas keadaanku ini, aku tetap santai dan tidak pernah sakit hati menghadapi sindiran atau bahkan hinaan dari orang-orang sekitar yang tentunya menganggap aku perjaka tua.

Tapi mereka yang menjadikan aku bahan gosip dan bahan pembicaraan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan aku memang tak pernah mau bercerita kecuali kepada sahabatku di masa lalu yang aku rasa mereka lebih tahu tentang aku, tentang logika, dan tentang solusi yang di bahas dengan penuh canda tawa. Tapi sayangnya, sahabat di masa laluku itu sekarang jauh semua. Kadang untuk bertemu mereka setahun sekali di hari raya lebaranpun, tidak bisa lama. Sekitar 2 sampai 3 jam mungkin. Sahabat di masa lalu itu aku beri nama, sahabat SMA. Ya tentu saja sahabat SMA, karna kami dulu satu sekolah pada waktu masih duduk di bangku SMA. Sekarang tahun 2017, dan kami dulu lulus SMA sekitar tahun 2004. 13 tahun sudah kita berpencar dan berpisah serta hidup dengan kehidupan kami masing-masing. Tapi tetap pada jiwa masa-masa SMA ketika setahun sekali di hari raya lebaran  kami bertemu dalam suasana reuni kecil. Karna memang hanya 5 orang, kadang 7 orang. Karna memang terkadang ada salah satu atau salah dua bahkan beberapa sahabat kami berhalangan hadir karna tidak bisa pulang kampung karna memang berdomisili di luar Pulau Jawa.

Ah…sudahlah. Kalau ingat masa SMA rasanya gimana gitu… Ada cinta rahasia di sana, cinta apalah… banyak pokoknya. Tapi ini bukan masa SMA guys… ini masalah serius. Di umur gua yang sudah gua sebutkan di atas. Kok jadi pakek gua yah..hehehe..

Selama 13 tahun setelah lulus SMA memang aku jarang merantau ke luar jawa. Bahkan ke Jakarta pun aku jarang. Tapi bukan berarti aku belum pernah pergi ke Jakarta lho ya… Aku pernah ke Jakarta walau belum sempat melihat Monas sih… Aku hanya bekerja di kampung. Apa saja. Yang penting setiap saat aku bisa melihat keadaan ibuku. Kadang aku bekerja mencangkul, jadi tukang ojek, ternak jangkrik dan pekerjaan lain yang sulit aku terjemahkan kedalam bahasa indonesia.

Dan selama 13 tahun itu, bukan berarti aku mempunyai kelainan Sex karna sampai sekarang aku belum menikah. Aku pria normal. Swear… aku normal. Dan bukan berarti pula aku tidak pernah pacaran. Memang wajahku tidak seganteng bintang iklan atau artis sinetron. Tapi aku mencoba menjadi diriku sendiri di jaman yang selalu berubah-ubah ini. Aku tetap berpenampilan rapi. Yah… mungkin boleh di bilang gaya pakaianku terlalu formal. Tidak seperti pria yang belum menikah yang gaya berpakaiannya mengandung unsur tebar pesona.

Menurut lembaga survei keagamaan yang tidak mau disebutkan namanya, ibadahku rajin versi orang seusiaku. Apalagi aku masih perjaka ting-ting.

Bukan aku pilih-pilih dalam hal pasangan atau gebetan tapi aku sendiri menyadari, aku anak orang yang tidak mampu. Malu rasanya kalau laki-laki berkepala tiga seperti aku menyatakan cinta pada gadis usia pelajar yang boleh dibilang sekarang cantik-cantik versi camera 360. Tapi apa daya gadis ini yang benar-benar mampu memborgol hatiku.

Sekitar tahun 2013 lalu, aku bekerja membangun mushola di kampung di sebelah rumah gadis ini. Sebut saja namanya Sri. Yang sebenarnya rumah kamipun jaraknya tidak terlalu jauh. Cuma beda RT saja. Gadis ini bukan satu-satunya gadis yang pernah singgah dihatiku dan mengisi bagian sejarah cinta dalam hatiku. Banyak gadis lain. Tapi Sri inilah yang begitu berkesan sampai tulisan ini aku buat.

Aku mengincanya sudah sejak lama, sejak dia masih kecil aku sudah mengetahui sedikit banyak tentang seluk beluk keluarganya dan keseharianya. Jadi aku tidak ragu melabuh dan mendaratkan ungkapan pernyataan tembakan isi hati cintaku padanya.

Singkat cerita, gayungpun bersambut. Kami menjalin hubungan cinta. Dan kalaupun ceritanya tidak saya singkat. Nanti jadinya Novel hehehe…

Sebagai lelaki normal yang ingin segera menikah, akupun ingin segera memperkenalkan gadis pujaan hatiku ini kepada ibuku. 

Tapi betapa hancur hatiku. Ibadah dan logika yang coba kubangun selama ini pupus begitu saja oleh mitos. Ya… orang tuaku masih percaya dengan mitos atau semacam budaya kejawen. 

Versi ibuku, jodoh atau istriku nanti syaratnya sangatlah ribet. Salah satunya adalah tidak boleh ngalor ngetan, yang kira-kira artinya adalah jalan antara rumahku menuju rumah seseorang yang akan ku nikahi, arahnya tidak boleh leter L mengarah arah utara dan timur. Logikanya, yang mau menikah kan manusianya bukan jalannya. Kalaupun yang di permasalahkan rute arah jalan yang berarah utara-timur, toh jalan itu baik-baik saja sejak dulu di bangun sampai sekarang. Dan setiap hari dilewati manusia,dan manusia yang lewat jalan itu baik-baik saja. Dan jawaban dari pertanyaan kenapa kalau jalannya ngalor-ngetan seseorang dilarang keras untuk melangsungkan perkawinan adalah “jarene wong tuwo biyen”  yang artinya “kata orang tua dulu”. Kalau di langgar seseorang dari keluarga kedua pengantin akan ada meninggal atau apalah, intinya tertimpa sesuatu sampai mengakibatkan kematian. Inikan aneh, kan sudah jelas jodoh,rejeki dan kematian adalah ketentuan sang maha pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt…

Syarat yang kedua, tidak boleh satu domisli dengan suami atau istri dari saudara kandungku. Misalnya adikku yang perempuan dapat suami orang dari Desa Karang Anyar, maka akupun juga tidak boleh punya istri orang dari desa tersebut. Katanya sih salah satu dari kami tidak akan ada yang kuat. Ini suatu mitos,tapi kok menurutku jauh dari ajaran agama bahkan secara logikapun tidak masuk akal. 

Syarat yang ketiga adalah tidak boleh sama-sama anak terakhir. Dan secara kebetulan aku adalah anak terakhir. Dan si Sri yang tadi hampir ku pacari selama 3 tahun adalah anak terakhir dan kebetulan pula satu domisili dengan suami adikku.  Ini semakin membuat saya pusing. 

Dan anehnya masih banyak mitos-mitos yang lain dan sangat aneh menurutku.

Aku mencoba mengalahkan logika dan agamaku demi ibuku. Yah… biarlah aku terdiam dalam segala pemberontakan hati nuraniku demi melihat senyum ibuku. Karna dialah satu-satunya harta yang paling berharga yang aku miliki. Dan hanya kepada Tuhan aku berserah. Berharap rencana Tuhan lebih indah dari apa yang aku impikan. Mempunyai istri dengan syarat yang telah di tentukan oleh ibuku. Berat memang rasanya tapi mau bagaimana lagi. Rasa cintaku pada ibu telah mengalahkan logikaku sendiri. 

Advertisements

About tulusmaholtra

apapun karyamu... tampilkan !!!!
This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s