Hidup Itu Pilihan

Pilih jadi munafik yang selalu di elu-elukan orang tentang semua kebaikan dan sebagainya-dan sebagainya. Yang sebenarnya itu hanyalah pencitraan dan penghianatan hati nurani. Atau memilih menjadi diri sendiri walau di pandang sebelah mata sebagai orang liar tapi tak pernah usil pada hidup orang lain kecuali ada yang usil duluan 

Ada di pihak mana anda? Saya bahas di katagori menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri maksudnya ya…apa adanya. Dalam penyampaian tutur bahasa misalnya. Mulai dari umpatan anjing dan teman-temannya. Atau dari tingkah laku sehari-hari. Yang memang begitu adanya tanpa di buat-buat. Ya ini mungkin katagori yang suka. Dan saya misalkan saya sendiri berposisi sebagai pelaku dalam katagori ini. 

Karena akhir-akhir ini banyak munafikers di luar sana pencitraannya itu sungguh sangat amat luar biasa sekali dahsyatnya. Di satu sisi, orang yang mulutnya penuh dengan kebun binatang dalam bahasa komunikasi sehari-hari telah di bunuh karakternya oleh para munafikers dan para pencitraan mania ini. Orang yang berusaha menjadi diri sendiri ini di jelek-jelekan, di jadikan bahan gosip bahwa orang seperti saya ini misalnya adalah sampah, tak tau umur, atau percuma sudah punya anak tapi mulutnya masih kotor. Bukan dari siapa-siapa, para munafikers pencitraan mania ini bisa berasal dari lingkungan sekitar atau bahkan dari teman kita sendiri.

Oke… saya menjauh. Dan tidak akan pernah masuk lagi dalam ranah hidup para munafikers pencitraan mania sekalian. Tapi dengan satu syarat, kalau ada apa- apa jangan pernah lagi sebut nama saya, panggil saya, hubungi saya, untuk urusan yang biasanya kepepet dan butuh nama saya, butuh manggil saya, dan butuh menghubungi saya. JANGAN HARAP.

Memutuskan tali silaturahmi memang tidak baik dalam agama islam. Tapi menurut logika saya, lebih tidak baik lagi orang munafik yang penuh dengan pencitraan. Jadi saya lebih memilih memutuskan tali silaturahmi daripada menjadi orang munafik yang kerjaannya cuma melakukan pencitraan demi reputasi. REPUTASI TAI.

Apa saya satu-satunya orang bermulut kotor penuh anjing dan teman-temannya dalam bahasa komunikasi sehari-hari? Jawabanya anda sendiri yang tahu. 

Dan apakah saya satu-satunya orang yang telah di diskriminasi lalu di mintai bantuan? Hahaha…

Enak ya jadi orang munafikers pencitraan mania. Cuma modal bahasa di setel halus dan sok religius dapat penghargaan sosial ‘orang suci’. Kalau kepepet butuh bantuan manusia bermulut anjing tinggal melakukan pendekatan dengan setelan bahasa halus sok religius. Tapi maaf, saya adalah orang bermulut anjing yang punya harga diri. Karena apa? Karena kehidupan liar mengajari saya apa itu arti prinsip…bukan untuk menjadi munafik.

Munafikers pencitraan mania ini biasanya, biasanya lho…ya… tidak semuanya. Biasanya tidak begitu kaya harta, tapi seolah-olah dalam sehari atau sebulan dia mengklaim bahwa dialah yang paling boros atau paling banyak dalam mengeluarkan uang.

Dan biasanya kalaupun punya jabatan, jabatannyapun biasa saja. Tapi sok mengklaim bahwa dialah yang paling pusing satu negara.

Bagaimana…para mulut anjing seperti saya? Masih bertahan menjadi diri sendiri tanpa menyakiti orang lain atau berpindah haluan menjadi tokoh munafikers pencitraan mania yang dipuja dan dipuji orang-orang cerdas yang telah terbodohi oleh hasil kemunafikan dan pencitraan itu sendiri.

Advertisements

About tulusmaholtra

apapun karyamu... tampilkan !!!!
This entry was posted in opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s