Mother Jaman Now

Kalimat mother jaman now saya dapat dari Karyn peserta Stand Up Comedy Academy Indosiar yang berasal dari Medan dan dia baru berusia 10 tahun. Saya mengapresiasi Karyn karena di usianya yang baru 10 tahun dia sudah pandai Stand Up dan bisa masuk 3 besar di kompetisi itu.

Kembali ke #motherjamannow.

Pernah lihat gak ? Ibu-ibu, entah itu ibu muda atau ibu yang tua. Beliau ini sangat-sangat membuat saya geli. Dimana letak gelinya ? Saya tidak mau menampilkan visualisasi berbentuk foto atau meme dan sejenisnya. Yang jelas, kira-kira begini gambarannya. Ibu-ibu yang mengklaim dirinya gaul dan kekinian ini dengan bangganya mempersembahkan di dinding media sosial mereka sosok wajah yang pas-pasan dengan di tambahi embel-embel karakter anjing. Kira-kira apa pendapat anda ? Jawabannya tentu beragam. Ada yang mungkin karena iseng, sekedar lucu-lucuan,atau biasanya alasannya ben niru kancane ( Biar sama kayak temen yang lain). Teman yang mana woiiii ??? Dan kalau lucu, dimana letak lucunya ? Masa iya sih, ada orang yang bangga mukanya menyerupai anjing. Padahal kalau di kata-katain anjing belum tentu dia terima. Bahkan bisa marah sampai anjingnya juga ikut keluar lewat mulut. Anehkan ? Secara tidak langsung mengaku dirinya anjing, tapi di sisi lain kalau di kata-katain anjing malah marah. Harusnya bangga dong karena imajinasinya benar-benar terjadi. Menurut saya terobsesi kepada sesuatu hal (artis idola misalnya) itu wajar. Tapi…, ada tapinya ! Jadikan obesesi itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang banyak. Kalau terobsesi menjadi anjing dan hewan lain ini kita dapat apa?

Kalau menurut saya, ini lebih kepada melecehkan orangtua. Maksudnya gini, jangan semua di sama ratakan. Gaul, bodoh, kekinian, hits dan lain-lain ini sesuatu yang kontradiksi. Hargailah orangtua kita. Apalagi ibu kita. Beliau susah payah bertaruh nyawa saat melahirkan kita. Tapi pas sudah jadi ibu-ibu kok dengan mudahnya terseret arus perkembangan jaman. Kita boleh mengikuti trend masa kini, tapi mbok ya jangan di telan mentah-mentah. Ambil yang bermanfaat saja. Aplikasi lain kan banyak yang lebih mendidik. Malulah juga sama umur. Di usia yang di setiap sudut perdebatan selalu mengaku dewasa ini alangkah baiknya memberi contoh yang benar-benar dewasa.

Bahkan ketika saya bahas dengan teman saya tentang fenomena ini, jawaban teman saya malah lebih sadis “kenapa mukanya tidak di operasi jadi kek anjing aja sekalian”

Media sosial dan aplikasi memang dua hal yang sulit di pisahkan. Tapi alangkah lebih baik lagi kalau kita bisa lebih bijak dalam mengkombinasikan keduanya.

Kalau saya sih i don’t care. Toh saya malah senang bisa nambah materi tulisan saya. Yang mukanya di paksakan menjadi anjing dapat apa? Like sama komen ? Hahaha… Nyari like sama komen kok sampai segitunya. Kasihan. Kan ada aplikasi auto like dan auto coment. Gak murni kalau pakai aplikasi? Emang wajah anjing situ murni. Mikir ???

Salam Kuli Bangunan

Advertisements

About tulusmaholtra

apapun karyamu... tampilkan !!!!
This entry was posted in Kehidupan, kuli bangunan, opini, sosial and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s